Dec
02
Gaharu
Spread the love

Gaharu

Pohon Gaharu
Pohon Gaharu

Gaharu menjadi komoditas pertanian dan perhutanan paling mahal di dunia. Lantaran populasinya di alam yang kian hari kian langka, maka pembudidayaan menjadi alternatif yang paling rasional. Gaharu adalah suatu sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta juga ternyata mempunyai kandungan kadar damar wangi yang harum sepanjang waktu, berasal dari pohon atau salah satu bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, akibat dari proses infeksi yang dapat terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon itu tersebut, dan ternyata juga pada umumnya terjadi pada pohon Aguilaria sp. (Nama asli original daerah: Karas, Alim, Garu, dan juga lain – lain). Gaharu memiliki berbagai bentuk dan warna yang sangat khas, memiliki kandungan damar wangi dan harum berseri, berasal dari pohon atau bagian dari pepohonan penghasil produksi gaharu, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi secara alami atau buatan pada pohon Aguilaria sp (Thymelaeaceae).

Tumbuhan penghasil produksi gaharu menurut Sumarna (2002) secara botanis memiliki susunan tata nama sebagai berikut:

 

 

  • Kingdom    : Plantae
  • Divisi           : Termatophta
  • Sub-Divisi  : Angiospermae
  • Klas               : Dikotiledonae
  • Ordo             : Myrtales
  • Famili          : Thymeleaceae
  • Genus          : Aquilaria
  • Spesies        : Aquilaria malaccensis Lamk

Dalam perdagangan, gaharu dikenal sebagai produk agarwood, aloewood, atau eaglewood. Rata – rata kouta yang dimiliki negara Indonesia sekitar 310 ton/tahun. Kouta ini diperoleh dari pembagian permintaan pasar oleh negara – negara produsen gaharu. Hanya saja untuk saat ini produksi tumbuhan pohon gaharu Indonesia baru terpenuhi  sekitar 10-20% atau sekitar 25-40 ton/tahun sehingga masih sangat jauh dari kouta ekspor. Kondisi ini sangat berdampak sekali terhadap harga jual gaharu yang saat ini mencapai Rp 5 juta/kg. Memperhatikan pemenuhan kouta permintaan pasar atas komuditas gaharu yang terus meningkat maka  pembudidayaan gaharu memiliki prospek  yang tinggi dalam upaya  mempersiapkan era perdagangan bebas di masa mendatang. Khusus jenis Aquilaria malaccensis yang berkualitas dan bernilai sangat tinggi dan mahal, akan berpeluang meningkatkan tingkat produksi gaharu (Sumarna, 2002).

Gaharu dikenal berasal dari marga tumbuhan bernama Aquilaria. Di Indonesia sendiri tumbuh berbagai jenis & macam jenis & spesiesnya, seperti A. mallaensis, A. microcarpa, A. hirta, jenis spesies A. beccariana, dan A. Filaria. Karena banyaknya macam dari jenis tumbuhan ini ada di Negri Nusantara Indonesia, maka bukan barang aneh, bila kemudian tumbuhan ini juga banyak dimanfaatkan masyarakat. Manfaat gaharu antara lain adalah sebagai bahan pembuat obat dan parfum.

Gaharu mulai dikenal di negara Indonesia pada sekitar 1200 Masehi yang dibuktikan oleh adanya perdagangan dalam bentuk tukar – menukar (barter) antara masyarakat Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat dengan para pedagang dari daratan China atau negara Tiongkok, Kwang Tung. Masyarakat memperoleh banyak gaharu sebagai hasil pungut dari hutan alam dengan memanfaatkan pohon-pohon yang telah mati alami dengan bentuk produk berupa gumpalan, serpihan serta bisa juga bubukan.

Sebagai salah satu komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), gaharu semula memiliki nilai guna yang terbatas hanya untuk mengharumkan tubuh, ruangan dan kelengkapan upacara seremoni ritual keagamaan masyarakat Hindu dan Islam. Sejalan dengan perkembangan ilmu modern dan teknologi kimia serta farmasi serta didukung pula berkembangnya paradigma dunia kedokteran dan pengobatan untuk kembali memanfaatkan bahan tumbuhan alami (back to nature), produk pohon gaharu selain diperlukan sekali sebagai bahan industri parfum dan kosmetika, juga dibutuhkan sebagai bahan ramuan campuran obat herbal, untuk pengobatan stres, asma, rheumatik, radang ginjal, bahan antibiotik TBC, serta tumor dan juga penyakit kanker.

Negara Indonesia adalah merupakan salah satu negara besar penghasil produsen gaharu terbesar di dunia, hingga akhir tahun 1990 mampu menghasilkan lebih dari 600 ton per tahun, sejak tahun 2000 produksi terus menurun dan dengan kouta sekitar 300 ton/tahun hanya mampu terpenuhi antara 10-15%, bahkan sejak tahun 2004 dengan kouta 50-150 ton/tahun, tidak tercatat adanya data ekspor gaharu dari Indonesia.

Berkembangnya nilai guna dari pohon gaharu, mendorong  minat negara-negara industri untuk memperoleh gaharu dengan harga jual yang semakin meningkat. Tingginya harga jual dan beli yang melambung mendorong upaya masyarakat merubah pol produksi dengan cara menebang pohon hidup dan mencacah batang untuk memperoleh bagian kayu yang telah bergaharu. Upaya tersebut ternyata telah mengancam banyak kelestarian sumberdaya pohon penghasil di berbagai wilayah sebaran tumbuh. Dalam upaya melindungi dan menjaga kelestarian dari kepunahan sumberdaya pohon penghasil, komisi CITES (Convention on International in Trade Endangered Species of Fauna and Flora) sejak tahun 2004 telah menetapkan larangan dan atau pembatasan  pemungutan gaharu alam dari genus Aquilaria spp dan Gyrinops sp dengan memasukan kedua genus tersebut dalam daftar tumbuhan Appendix II CITES.

Maka dalam mendukung upaya konservsi dan membina kelestarian produksi, serta upaya mengantisipasi perkembangan permintaan pasar dalam meningkatkan nilai guna, sehingga pembatasan dan larangan perdagangan gaharu dari genus Aquilaria spp dan Gyrnops sp dapat dicabut, alternatif produksi gaharu perlu bersumber dari hasil pembudidayaan.

Secara teknis pembudidayaan terhadap jenis-jenis pohon penghasil gaharu berkualitas dan bernilai komersial tinggi, sesuai sifat fisiologis pohon, idealnya untuk khusus dikembangkan di berbagai wilayah endemik sesuai daerah sebaran tumbuh, selain itu dimungkinkan pula mampu diintroduksikan pada berbagai lahan-lahan atau yang memiliki kesesuian tumbuhnya pohon. Berkembangnya pembudidayaan diharapkan selain dapat berperan dalam melestarikan plasma nutfah, juga sekaligus dapat terbina upaya dari menjaga kelestarian produksi gaharu yang bernilai konstruktif dalam revitalisasi sektor kehutanan dalam membina perolehan pendapatan masyarakat serta devisa negara.

Apabila Anda ingin membeli atau ingin membuat penawaran gaharu, mulai jenis gaharu laka, gaharu buaya, sampai gaharu super asli pulau Kalimantan, silahkan hubungi kami di nomor handphone atau SMS 0823 5162 8800 & 0877 2691 0332 atau invite pin BBM 536DB6E3.